Aduh..aduh.. BlogQ sayang.. Maavin aq iaa, seLama ini jablai.. hik3x.. Klo bisa bicara pasti nangis iaa.. hehehehe… Maav ne baru aq kunjungi sekarang.. Kenapa ?? gag Usah dibahas kenapa dech iaa.. Abiz hari-hariQ sangat melelahkan. pulang Langzung panggilan alam (alias tidur) ^.^, hari ini aq maw bahas tentang anak kreatif itu banyak bertanya ?? Really ? Cekidot..
Memuaskan keingintahuan mereka, anak-anak selalu aktif bertanya. Lalu, bagaimana dengan anak yang cenderung diam saja ? (buka gagu atau bisu loch) hehehe.. Dunia anak memang identik dengan kegembiraan dan segala sesuatu selalu hadir dalam persepsi baru. Anak-anak normal tentu saja akan selalu bertanya tentang apa pun yang dihadapinya. Bahkan mereka yang cerdas, melihat hal-hal kecil seperti kupu-kupu yang hinggap pada sekuntum bunga, atau menyaksikan semut beriringan di pohon, akan menjadi tanda tanya besar, yang harus segera terjawab.
Namun, tidak semua anak memiliki keberanian bertanya. Bahkan, banyak anak memilih diam saja, walaupun rasa ingin tahu hadir didalam pikirannya. Bagi orangtua, anak yang cenderung diam dan takut bertanya menjadi masalah tersendiri. Bagaimana agar tidak segan bertanya ? Pada umumnya, anak enggan bertanya disebabkan rasa takut ataupun asing berbicara pada orang lain atau guru mereka. Agar anak berani menggungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, guru perlu mengadakan pendekatan emosional kepada anak tersebut. Komunikasi menjadi sangat penting. Seringlah mengajak anak tersebut berbicara.
Pembicaraan tidak selalu harus tentang pelajaran, pembicaraan bisa diselingi dengan mainan apa yang paling digemari, bagaimana keluarga, bagaimana lingkungan anak, atau bagaimana dengan saudara-saudara yang mereka miliki. Dengan membahas hal-hal yang menarik bagi anak, secara otomatis dapat melatih anak agar berani berbicara dan tentu saja berani bertanya.
“Anak yang cenderung diam dan enaggan bertanya, mungkin karena dia memang tidak mampu untuk mengungkapkan suatu pertanyaan, ataupun mungkin takut terhadap orang dewasa yang sedang dihadapi,” Kata Hasmi seorang guru TK. Untuk membiasakan anak bertanya atau mengemukakan pendapat mereka lewat pertanyaan, ajarkan anak untuk bertanya hal-hal ringan yang ditemukan dalam lingkungan mereka. ” Inilah fungsinya mengajak anak rekreasi atau mengunjungi tempat-tempat menarik. Hal itu bisa membuka wawasan anak ketika menemukan sesuatu yang baru,” terang Hasmi.
Bermain di luar rumah dengan teman-teman sebaya, atau mendatangi taman bunga, museum atau melihat pameran automotif, akan membuat anak lebih kritis terhadap apa yang mereka lihat. “Sifat kritis itu sangat penting bagi anak-anak. Jika mereka kritis bertanya, itu salah satu petunjuk kalau anak memiliki mental yang cukup baik,” ungkap Hasmi. Senada dengan Hasmi, hasil penelitian yang dilakukan di Universitas Minnesota, AS, Dr Paul Torrance membuktikan semua anak mampu menerima rangsangan yang diberikan guru ataupun orangtua dengan baik.(ozc/tin)
sumber:Balipost

