rasa-maluRasa malu merupakan rasa dimana perasaan tidak diterima secara sosial. Sejak kecil rasa itu sudah ada tanpa harus diajari, rasa itu datang dengan sendirinya tanpa diundang. Waktu menduduki sekolah dasar, ketika berpuisi di depan kelas saat mengikuti pelajaran bahasa indonesia rasa malu itu hadir sewaktu ditonton oleh teman-teman dan guru yang mengajar. Hal itu berlanjut ketika menduduki bangku kuliah, rasa malu datang ketika mahasiswa tidak bisa menjawab pertanyaan mahasiswa yang lain saat presentasi didepan kelas. “Buanglah jauh-jauh rasa malumu karena itu akan menghambat keberhasilanmu“.

Bagaimana, jika ada seseorang yang jauh lebih dewasa dari rekan sepermainanya, yang seharusnya menjadi panutan dan contoh bagi adik-adiknya melakukan hal yang sangat bertolak belakang dengan ucapannya. Selalu nasihat-nasihat ini dan itu dia lontarkan kepada kita, jika ada salah satu rekannya yang menyimpang dan tidak sejalan dengan pemikirannya walaupun itu benar atau salah, dia selalu menegur dan menceramahi. Meskipun tegurannya terkadang salah, tetapi karena rasa hormat dan melihat batasan usia yang jauh berbeda, dengan rasa malu untuk mengomentarinya, rekannya hanya bisa mengatakan “iya” dan “iya”. Akhirnya, waktu berputar terbalik.. perkataan yang dituturkan berbalik kepadanya, apa yang dulu dia larang sekarang dia sendiri yang melakukannya. Tidak ada lagi yang percaya padanya, bahkan untuk menyapanya pun lidah ini serasa enggan untuk berkata “Hay..”.

Termasuk rasa malu yang bagaimanakah ini ?? Apakah rasa malu yang luar binasa hebatnya.. Apakah hanya sekedar rasa malu biasa ? yang hanya dengan tidur saja sudah lenyap dimakan oleh bunga tidur.

Seorang salih yang dipuja umatnya mengatakan, “Rasa malu itu adalah bagian dari iman“. Dengan kata lain, seseorang yang mengaku beriman tidak sempurna jika tidak memiliki rasa malu.. Seorang yang beriman akan malu jika dia tidak bisa mempersembahkan pekerjaan yang baik untuk perusahaan yang mengajinya. Seorang yang beriman akan merasa malu jika kemampuan dirinya lebih rendah dari rekannya karena dia diberikan fasilitas yang sama, gaji yang sama dan tanggung jawab yang sama. Seorang yang beriman akan malu jika dia selalu ketinggalan, seorang yang beriman akan malu jika harus mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Dari dasar malu itu, seorang yang beriman akan mempersembahkan sesuatu yang terbaik, berprestasi untuk dirinya. Mereka akan bersungguh-sungguh menjalani dan melakukan sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya karena mereka malu untuk tampil ketinggalan, bertanya, diperintah dan mempunyai kemampuan yang standar.  Karena “Rasa malu itu adalah bagian dari iman“, maka semakin dekat dengan kesuksesan. Mengapa ? Karena kita dibimbing untuk menjadi pribadi-pribadi yang unggul, dapat diandalkan, layak diberi tanggung jawab besar, patut menjadi panutan, dan meninggalkan jejah-jejak keterpujian.

Sekarang pilihannya ada pada diri anda.. Apakah anda ingin menjadi orang berhasil dengan membuang rasa malu anda atau menjadi sukses dengan memupuk dan menghidupkan rasa malu dalam diri anda..

Life is your choice..

  • Share/Bookmark